Nias Utara
Hangatnya pembicaraan di kalangan masyarakat Kecamatan Afulu seputar ulah oknum guru YZ di SMPN 1 Afulu kian viral. Perilaku YZ dituding tidak seperti layaknya seorang pendidik (guru) yang menyebabkan para orang tua siswa menjadi trauma.
Menurut informasi yang diterima PR, oknum YZ tersebut diduga sudah 3 kali membuat ulah di tempat ia mengajar di SMPN 1 Afulu. Salah satunya pada tahun 2011 silam, ia telah melakukan pemukulan terhadap siswanya. Kala itu langsung didamaikan pihak sekolah. Lalu muncul lagi pada tahun 2016, dimana ia melarang siswanya mengikuti upacara Pramuka di Kecamatan Afulu. Yang terakhir tentunya yang sedang hot dibicarakan seputar oknum YZ berduaan siswanya di ruang tertutup saat acara perpisahan.
Berdasarkan informasi A1, pihak sekolah telah melakukan perdamaian antara Yuniso Zalukhu (YZ) dengan orang tua siswi bersama komite yang hanya dinilai dalam surat perdamaian. Namun tidak adanya bentuk kesalahan dan uraian kejadian yang menimbulkan tanda tanya ada apa di balik perdamaian tersebut.
Meifermanto Gea selaku Investigasi NCW Nias Corruption Watch Indonesia dan anggota PWRI Nias utara serta tim investigasi JPKP Kecamatan Afulu melakukan konfirmasi kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Afulu, Yunaria Waruwu melalui telopon selulernya 085261704xxx, Kamis lalu (08/06/17) menolak memberikan keterangan. Bahkan dengan arogan ia menyebut itu bukan urusan siapapun kecuali keluarga korban. "Tidak ada urusanmu, karena kamu bukan dari bagian keluarga korban, saya lagi sibuk," ucap Kepsek seraya mematikan sambungan telepon.
Meifermanto berpendapat bahwa sikap Kepala Sekolah jelas terlihat melakukan pembelaan terhadap oknum YZ. "Jelas Kepsek berusaha menutup-nutupi kesalahan bawahannya," ujar Mei.
Disisi lain, oknum YZ termasuk saudara dekat Kepala Sekolah, dan inilah menjadi kecurigaan publik terhadap upaya pihak sekolah menutupi kasus tersebut, urainya lagi.
"Sengaja saya mengkonfirmasikan masalah yang terjadi di SMPN itu pada tanggal 20/05/2017 dan perdamaian di tanggal 30/05/2017 kepada Kepala Sekolah. Agar masalah ini terang di tengah-tengah masyarakat yang sudah trauma tentang apa sebenarnya yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut," pungkas Meifermanto. (Pr/mge)